Perjalanan waktu telah membuat aku terlena. Semua yang aku cari belum jua bertemu. Kepuasan diri tidak pernah tercapai. Hasrat terus membara mencari diri. Hanya untuk terus bekerja, mencari lembaran-lembaran rupiah. Terasa cepat pudar dan sirna hanya dalam hitungan menit setelah waktu yang digunakan untuk mendapatkannya. Itulah kehidupan, yang telah mencapai titik kulminasi menjelang usia 40ku.
Ada yang bilang “live begin at forty”. Untuk aku, hal itu betul-betul sebuah start. Baru sebuah start. Mengapa? Untuk penggagas moto itu, mungkin berarti menikmati hidup (live), untuk aku mengawali ke-hidup-an (life). Hal itu karena perjalanan yang tiada arah. yang aku rasakan sebagai mencari fatamorgana.
Teringat khotbah romo Suntoro di misa kemarin 18 Nov 07, cerita tentang lampu kuning. Budaya lampu kuning di kota-kota besar bahwa jika lampu lalu-lintas menyala kuning seyogyanya semua pemakai jalan yang “bisa melihat” mengurangi gas, oper persneling, injak rem dan siap berhenti. Bukannya tambah gas..lagi..lagi… dan “GABRUK…PRESSSS…” rumah sakit. Untuk kita umat Katolik, lampu kuning berarti siap berhenti, mawas diri, introspeksi. APA YANG SUDAH AKU BUAT HARI INI?
Romo melanjutkan; ada kisah yang untuk saya sangat menarik dan akan selalu saya ulang2 dalam khotbah. Yaitu kisah tentang seorang yang berjalan bersama Tuhan. Tampak jelas 2 pasang jejak kaki membekas di tiap langkah mereka. Suatu waktu…… orang tersebut terkejut, gundah, sewaktu ia menyadari bahwa ia berjalan sendiri. Saat itu adalah saat ia merasa kesulitan, terhimpit masalah, terlilit hutang, bingung membayar SPP anaknya, harga-harga yang makin mencekik. Orang itu menjerit “Allahku, mengapa Engkau meninggalkan daku”, dan Allah menjawab dengan nada yang tenang teduh…”anakKu… sewaktu engkau dalam kesulitan Aku menggendong engkau”. Itulah sebabnya jejak kaki yang menandai jalan kehidupan orang itu hanya sepasang. Ternyata Allah menggendongnya.
Itulah inti dari doa kita. Tanpa bertele-tele meminta-minta. Allah tahu apa yang kita butuhkan. Allah paham apa yang kita inginkan. “Sebab mana mungkin seorang bapa akan memberikan ular kepada anaknya ketika ia minta ikan, atau memberikan batu jika anaknya meminta roti.”
Kita ini hanya debu dihadapan Allah, cukuplah kita MEMUJI dan MEMULIAKAN ke Maha Kuasa an ALLAH.
amin.